Pagi itu (1 Mei 2018) kami bangun pagi tak seperti biasanya. Walau hari libur karena bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), suara riuh di luar rumah memaksa istriku bangkit dari peraduan. Bahkan tak lama berselang, giliran istriku meneriaki supaya aku bangkit menyusulnya.
"Tetangga kita kemalingan," ujarnya saat kakiku melangkah ke teras rumah. Lalu satu per satu tetangga yang lain mendekat. Mereka juga penasaran dengan kegaduhan yang baru saja mulai reda.
Sang empunya rumah kontrakan ikut memeriksa. Secara seksama ia menelisik bagian-bagian rumah yang dijamah tamu tak diundang yang masuk rumah itu. "Ya, sudah kita coba lapor pak RT," ujarnya lalu berlalu.
"Ya ampun pa, kita juga kemalingan," tiba-tiba istriku meringkih di depan ruang tivi. Aku yang masih melongo di teras lantas masuk rumah. Kudapati dia tengah merogoh tas, memeriksa barang-barang hilang dari dalamnya.
Kami lalu memeriksa jendela. Benar saja, sudah terbuka, engselnya rusak, dan ada bekas goresan benda tajam di sana. "Ini seperti dicongkel pakai obeng," aku menduga.
Pagi itu bukan cuma tetangga yang menjadi korban pencurian. Tapi kami pun demikian. Dari rumah kami, dua unit hape samsung lipat hilang. Lalu uang Rp 500 ribu dari dompet istri juga disikat maling. Garong itu tak sampai masuk rumah. Hanya dari balik jendela.
Sementara tetangga kami kehilangan satu unit hape xiomi, satu unit laptop dan uang tunai hampir dua juta. Maling berhasil masuk ke rumah mereka setelah merusak jendela di bagian belakang rumah.
Karena penasaran, bersama pak RT dan seorang anggota TNI (Babinsa) yang sudah datang kami lalu memeriksa ke belakang rumah. Mencari tahu jalan yang dilalui pencuri sehingga bisa masuk ke dalam rumah tetangga kami tadi.
Bagian belakang rumah bedeng yang kami kontrak sebenarnya tertutup tembok setinggi atap rumah. Hanya saja, dari empat bedeng/pintu, hanya dua bedeng yang masih punya ruang terbuka di bagian paling belakang, di samping kamar mandi. Bisa dibilang itu halaman belakang meski tak luas-luas amat.
Sementara dua bedeng lainnya sudah tertutup rapat, menyatu dengan tembok. Sehingga tidak punya ruang lebih di bagian paling belakang.
Bedeng yang kami tempati adalah salah satu yang masih punya ruang lebih di bagian belakang, namun setahun terakhir sudah kami tutup habis. Ruang yang semula terbuka itu kami tutup dan menjadi ruang dapur.
Saat tengah mencari-cari jejak maling, tiba-tiba tetangga yang rumanya persis di belakang bedeng membuka pintu. Pak Nas, begitu dia dipanggil. Ia muncul bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan.
Setelah dia bertanya kami sedang apa, ia pun mengakui bernasib serupa. "Pelaku juga masuk ke dalam rumah. Lapotop dan hape hilang. Malingnya masuk lewat sini," kata Pak Nas sembari menunjuk fentilasi di atas pintu yang dijebol pelaku sehingga bisa masuk.
"Motor ini sudah sempat digeser. Garasi juga sempat dirusak, tapi nggak berhasil masuk," lanjut Pak Nas.
Agaknya, dua unit sepeda motor di dalam garasi itu lah yang ditarget pencuri. Namun karena tak bisa menjebol gembok berantai yang membentengi garasi, pelaku lalu memburu harta benda yang lain.
***
Tomi, nama tetangga sebelah bedengan yang kehilangan hape xiaomi dan laptop serta uang tunai hampir dua juta akhirnya membuat laporan resmi ke Mapolsek Teluk Segara atas saran pak RT dan anggota Babinsa. Kami memilih tak melapor. Pak Nas pun tidak.
Setelah kembali dari Mapolsek, Tomi lalu melaporkan kasuanya ke Telkomsel. Ia melacak hapenya yang hilang lewat aplikasi di hapenya yang lain yang tak ikut dibawa maling. Hape itu sedang dicharge dan posisinya persis di depan mukanya saat maling masuk rumah. "Kalau sempat ini ditarik pasti bunyi dan saya bakal terbangun," jelas Tomi.
Rupanya hape Tomi yang dibawa maling itu diamankan dengan sidik jari. Dengan aplikasi pelacak, Tomi berhasil mendeteksi lokasi hape yang dibawa maling. "Mulai jam 4 pagi tadi hape itu sudah dibawa ke arah Jalan Suprapto, lalu ke Anggut," jelas Tomi.
Tomi sudah menyampaikan hasil pelacakannya kepada aparat. Hingga Rabu (2/5/2018) pagi, pelaku memang belum ditangkap. Tampaknya polisi sedang menunggu waktu yang pas atau sekaligus mau melihat apakah pelaku punya komplotan. Sebab, menurut seorang tetangga, malam kejadian ia begadang dan sempat melihat tiga orang asing di sekitar TKP.
"Mereka naik satu motor. Yang seorang berperawakan kecil. Seorang lagi berdiri di pinggir jalan seperti mengamati kondisi sekitar," katanya. 'Saya nggak curiga. Saya baru tahu ceritanya malam tadi ada kemalingan di sini," lanjutnya.
Hingga tulisan ini saya publis, belum ada kabar terbaru yang saya dapatkan terkait kabar terbaru hasil pelacakan Tomi. Tentu saya berharap pelaku bisa diringkus. Kalau tertangkap, pengen juga mampir ke kantor polisi mengintip tampang pelaku. Kalau ada kesempatan, mau juga beri satu dua tiga bogem biar terlampiaskan juga kekesalan ini. Ihhh😠ðŸ˜
"Tetangga kita kemalingan," ujarnya saat kakiku melangkah ke teras rumah. Lalu satu per satu tetangga yang lain mendekat. Mereka juga penasaran dengan kegaduhan yang baru saja mulai reda.
Sang empunya rumah kontrakan ikut memeriksa. Secara seksama ia menelisik bagian-bagian rumah yang dijamah tamu tak diundang yang masuk rumah itu. "Ya, sudah kita coba lapor pak RT," ujarnya lalu berlalu.
"Ya ampun pa, kita juga kemalingan," tiba-tiba istriku meringkih di depan ruang tivi. Aku yang masih melongo di teras lantas masuk rumah. Kudapati dia tengah merogoh tas, memeriksa barang-barang hilang dari dalamnya.
Kami lalu memeriksa jendela. Benar saja, sudah terbuka, engselnya rusak, dan ada bekas goresan benda tajam di sana. "Ini seperti dicongkel pakai obeng," aku menduga.
Pagi itu bukan cuma tetangga yang menjadi korban pencurian. Tapi kami pun demikian. Dari rumah kami, dua unit hape samsung lipat hilang. Lalu uang Rp 500 ribu dari dompet istri juga disikat maling. Garong itu tak sampai masuk rumah. Hanya dari balik jendela.
Sementara tetangga kami kehilangan satu unit hape xiomi, satu unit laptop dan uang tunai hampir dua juta. Maling berhasil masuk ke rumah mereka setelah merusak jendela di bagian belakang rumah.
Karena penasaran, bersama pak RT dan seorang anggota TNI (Babinsa) yang sudah datang kami lalu memeriksa ke belakang rumah. Mencari tahu jalan yang dilalui pencuri sehingga bisa masuk ke dalam rumah tetangga kami tadi.
Bagian belakang rumah bedeng yang kami kontrak sebenarnya tertutup tembok setinggi atap rumah. Hanya saja, dari empat bedeng/pintu, hanya dua bedeng yang masih punya ruang terbuka di bagian paling belakang, di samping kamar mandi. Bisa dibilang itu halaman belakang meski tak luas-luas amat.
Sementara dua bedeng lainnya sudah tertutup rapat, menyatu dengan tembok. Sehingga tidak punya ruang lebih di bagian paling belakang.
Bedeng yang kami tempati adalah salah satu yang masih punya ruang lebih di bagian belakang, namun setahun terakhir sudah kami tutup habis. Ruang yang semula terbuka itu kami tutup dan menjadi ruang dapur.
Saat tengah mencari-cari jejak maling, tiba-tiba tetangga yang rumanya persis di belakang bedeng membuka pintu. Pak Nas, begitu dia dipanggil. Ia muncul bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan.
Setelah dia bertanya kami sedang apa, ia pun mengakui bernasib serupa. "Pelaku juga masuk ke dalam rumah. Lapotop dan hape hilang. Malingnya masuk lewat sini," kata Pak Nas sembari menunjuk fentilasi di atas pintu yang dijebol pelaku sehingga bisa masuk.
"Motor ini sudah sempat digeser. Garasi juga sempat dirusak, tapi nggak berhasil masuk," lanjut Pak Nas.
Agaknya, dua unit sepeda motor di dalam garasi itu lah yang ditarget pencuri. Namun karena tak bisa menjebol gembok berantai yang membentengi garasi, pelaku lalu memburu harta benda yang lain.
***
Tomi, nama tetangga sebelah bedengan yang kehilangan hape xiaomi dan laptop serta uang tunai hampir dua juta akhirnya membuat laporan resmi ke Mapolsek Teluk Segara atas saran pak RT dan anggota Babinsa. Kami memilih tak melapor. Pak Nas pun tidak.
Setelah kembali dari Mapolsek, Tomi lalu melaporkan kasuanya ke Telkomsel. Ia melacak hapenya yang hilang lewat aplikasi di hapenya yang lain yang tak ikut dibawa maling. Hape itu sedang dicharge dan posisinya persis di depan mukanya saat maling masuk rumah. "Kalau sempat ini ditarik pasti bunyi dan saya bakal terbangun," jelas Tomi.
Rupanya hape Tomi yang dibawa maling itu diamankan dengan sidik jari. Dengan aplikasi pelacak, Tomi berhasil mendeteksi lokasi hape yang dibawa maling. "Mulai jam 4 pagi tadi hape itu sudah dibawa ke arah Jalan Suprapto, lalu ke Anggut," jelas Tomi.
Tomi sudah menyampaikan hasil pelacakannya kepada aparat. Hingga Rabu (2/5/2018) pagi, pelaku memang belum ditangkap. Tampaknya polisi sedang menunggu waktu yang pas atau sekaligus mau melihat apakah pelaku punya komplotan. Sebab, menurut seorang tetangga, malam kejadian ia begadang dan sempat melihat tiga orang asing di sekitar TKP.
"Mereka naik satu motor. Yang seorang berperawakan kecil. Seorang lagi berdiri di pinggir jalan seperti mengamati kondisi sekitar," katanya. 'Saya nggak curiga. Saya baru tahu ceritanya malam tadi ada kemalingan di sini," lanjutnya.
Hingga tulisan ini saya publis, belum ada kabar terbaru yang saya dapatkan terkait kabar terbaru hasil pelacakan Tomi. Tentu saya berharap pelaku bisa diringkus. Kalau tertangkap, pengen juga mampir ke kantor polisi mengintip tampang pelaku. Kalau ada kesempatan, mau juga beri satu dua tiga bogem biar terlampiaskan juga kekesalan ini. Ihhh😠ðŸ˜
Komentar
Posting Komentar