Perihal Pariwisata Lebong

Wisata arung jeram di Sungai Ketahun/foto sahabatrakyat.com

Sejak semula sungai jernih nan bersih di Desa Bioa Putiak, Kecamatan Pinang Belapis, adalah salah satu objek wisata yang sudah dikenal luas masyarakat Lebong.

Pada era 90-an, misalnya, mandi air panas di sekitar objek wisata Air Putih sudah menjadi rutinitas wisatawan yang datang ke sana.

Saya ingat kalau pas momen lebaran, Air Putih adalah tujuan utama masyarakat, khususnya dari Kecamatan Lebong Utara-sebelum pemekaran.

Satu kawasan wisata yang belakangan mulai ramai dikunjungi adalah air terjun atau bendungan/dam Paliak di Desa Embong, Kecamatan Uram Jaya kini.

Meski sudah ada sejak lama, Danau Picung saat itu jarang atau bahkan tidak pernah dijadikan tujuan wisata. Saya bahkan baru tahu lokasi ini setelah belasan tahun menjadi penduduk Lebong.

Danau Tes di masa saya sekolah menengah (1995-1997) lebih populer sebagai lokasi pembangkit listriknya dibanding sebagai lokasi wisata. Saya ingat berwisata ke sini saat perpisahan SMA. Kami juga bukan ke danau-nya tapi mengunjungi lokasi mesin pembangkit listriknya.

Apalagi kalau menyebut Telaga Tujuh Warna. Meski sudah diberitakan media massa sejak tahun-tahun 2000-an, toh masih ada di antara kita yang seakan baru sadar potensi besarnya saat usai daerah ini 15 tahun!

Apa yang ingin saya sampaikan adalah betapa sejumlah objek wisata itu belum dikelola secara sungguh-sungguh. Hanya dipoles secara parsial. Jadi lahan proyek.

Kalau kita sungguh-sungguh, maka harusnya debit air sungai Bioa Putiak tidak kian susut; warna air Danau Tes harusnya tidak keruh menguning di musim penghujan!

Kalau kita sungguh-sungguh, mestinya status kepemilikan lahan kawasan-kawasan wisata itu diurus sedini mungkin. Tidak dibiarkan seperti tidak ada win-win solution.

Kalau sungguh-sungguh, mestinya tidak terjadi bolak-balik peralihan status kawasan Danau Tes dan sekitarnya itu: dari Cagar Alam ke Taman Wisata Alam lalu dikembalikan lagi sebagai Cagar Alam.

Mengurai sejumlah ketidak-sungguhan itu memang memicu rasa jengkel dan memancing letup-letup amarah kita yang hendak membuncah.

Menurut saya, mengembalikan kesungguhan itu harus segera dimulai dengan kondisi kekinian saja.

Saat ini Lebong sudah dikenal punya potensi wisata petualangan sekaligus olahraga, yaitu arung jeram. Potensi ini sudah secara terbuka dideklarasikan tahun lalu oleh pemerintah daerah.

Setelah di-launching, statistik kunjungan wisatawan gara-gara arung jeram saya pastikan bergerak naik. Data jumlah kunjungan itu idealnya terekam oleh dinas terkait.

Arung Jeram Lebong; Tawarkan Sensasi dan Uji Nyali


Saking antusiasnya tamu yang ingin merasakan sensasi jeram sekaligus panorama indah Sungai Ketahun, kawan-kawan saya rela meninggalkan pekerjaan utamanya hanya agar bisa mengelola arung jeram sebagai lapangan bisnis baru.

Sampai di situ saya mau katakan bahwa Lebong sudah menemukan ikon baru yang bisa menjadi gerbang masuk bagi bangkit-kembangnya sektor pariwisata dengan objek yang sudah ada.

Lewat arung jeram mestinya objek wisata yang lebih dulu dikenal: Bioa Putiak, Danau Picung, Lobang Kaca Mata, Danau Tes, Paliak, Telaga Tujuh Warna dan lainnya bisa kembali diurus secara sungguh-sungguh.

Wisata arung jeram harus tetap menjadi prioritas untuk dikelola karena ia sudah punya nilai dan bisa menjadi merek dagang wisata kita.

Tata kelolanya harus melibatkan partipasi banyak pihak. Yang tak kalah penting adalah melibatkan partisipasi warga yang tinggal di sepanjang DAS Ketahun yang menjadi rute pengarungan.

Pada tataran program dan kebijakan, harus dimunculkan orientasi keberlanjutan. Karena modal utama arung jeram itu adalah air dan sungai itu sendiri maka harus ada jaminan kawasan hutan di hulu dan sekitarnya dijaga kelestariannya.

Secara ringkas, para pihak harus bersinergis. Tidak boleh egosentris apalagi sampai meletakkan potensi wisata itu dalam perspektif proyek (project oriented) dan semata bisnis.

Membangun wisata arung jeram artinya tidak semata-mata menyediakan perahu karet dengan skiper-nya an sich. Tetapi juga menghidupkan kreativitas warga sepanjang DAS dan melibatkan multi pihak guna keberlanjutannya.

Selain memberdayakan pemuda-pemudi desa sebagai skiper sekaligus atlet, misalnya, warga lainnya bisa diberi dukungan modal untuk membuka kegiatan usaha. Baik modal keterampilan, uang, maupun pengetahuan.

Ini ruang bagi pemerintah desa untuk mengalokasikan anggaran dana desa atau alokasi dana desa. Sebab dana desa sudah saatnya tidak lagi melulu untuk infrastruktur fisik tapi sudah bisa diplot ke pengembangan SDM dan ekonomi warga.

Catatan di atas saya sadari masih bersifat umum. Detail-detailnya masih bisa digali, termasuk data-data primer yang mestinya ada sebagai penguji atau bahkan menguatkan argumentasi dalam tulisan ini. So, mari berdiskusi...



Komentar