SENSASI MERAPI PASCA-ERUPSI


Kabut tebal menyelimuti puncak gunung ketika mobil yang kami sewa bergerak kian merapat ke kakinya. Siang itu cuaca memang agak mendung di sekitar Merapi. Tapi karena sudah jauh-jauh dari Pulau Sumatera, kami tak berpikir balik arah. Kami terus mendekat hingga kendaraan yang membawa kami harus berhenti di titik parkir terakhir kendaraan umum yang masuk ke lokasi-lokasi yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi. Perjalanan berikutnya harus dilakukan dengan menyewa mobil hardtop, jeep, motor trail atau ojek motor yang sudah menunggu. Jalan kaki juga boleh.

Kami yang sudah lelah setelah sekitar dua jam sebelumnya menikmati Candi Borobudur di Jawa Tengah, memutuskan menyewa hardtop. Satu unit hardtop diperuntukkan bagi maksimal empat penumpang. Namun karena kami minta satu unit untuk berenam, pengelola sewa kendaraan pun tak keberatan. Hardtop tipe medium pun dikontak agar segera merapat. 

Sebelum menjajal lokasi mana saja yang bakal disinggahi, di base camp MLCC (Merapi Land Cruiser Community), penyewa hardtop, menawarkan dua pilihan paket. Pertama seharga Rp 250 ribu. Kedua, seharga Rp 350 ribu. Beda paket cuma ada tambahan perjalanan ke makam Mbah Marijan. Jika hendak ke makan pemegang kunci Merapi itu, pilih paket kedua.

Kami yang penasaran dan kepalang sudah jauh-jauh datang, memilih medan yang nantinya bakal singgah di makam Mbah Marijan. Lalu setelah dibekali masker, kami pun diajak lebih merapat ke Merapi dan menjelajahi lokasi-lokasi yang terkena dampak erupsi dan awan panas. Baru satu tarikan pedal gas saja, adrenalin sudah dipacu. Pegangan tangan pada palang-palang besi hardtop juga kian erat karena penumpang digoyang sedemikian ketika hardtop melaju di jalan yang bergelombang tak terbilang. Belum lagi debu jalan yang mengepul liar. Beruntung tidak ada kendaraan lain di depan sehingga kepulan debu yang terbang usai dilindas roda hardtop tak menghalangi jarak pandang ke depan. 

Dari base camp, pertama-tama kami dibawa ke desa-desa yang hanya tinggal nama dan cerita. Tak ada rumah atau bangunan apa pun yang utuh yang nampak di sana. Apalagi warga. Yang tampak hanya sisa bangunan seperti lantai atau dinding yang tinggal menunggu waktu rata dengan tanah. "Ini dulu Kampung Kelukan," sebut sopir hardtop yang membawa kami.

Hardtop melaju pelan menuruni jalan berdebu dan tak datar. Kami berada di tepi bibir sungai Gendol yang tak lagi dialiri air melainkan dipenuhi kerikil, pasir, batu dan material lainnya dari muntahan Merapi. Di sisi alur sungai, kami disuguhi aktivitas pengerukan material dengan alat berat. Lalu material itu diangkut truk. "Material dari sini diangkut keluar. Ada yang ke kabupaten atau ke daerah lain yang memesan," terang pemandu lagi.

Menurut laman jogjaholidays.com, Kali Gendol adalah sebuah sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi sebelah timur. Pada erupsi kedua Gunung Merapi tanggal 5 November 2010 silam, Kali Gendol menjadi jalur aliran awan panas yang menyapu daerah sekitar hingga 17km kebawah. Pemukiman yang berada di sekitar Kali Gendol, khususnya di Cangkringan yang diperkirakan hingga satu desa yang hanyut oleh keganasan lahar dingin. Saat erupsi diperkirakan material yang hanyut sangat panas dan banyak karena Sungai Gendol meluap hingga pemukiman warga.


Timbunan pasir di Kali Gendol dan sekitarnya menjadi berkah yang dimanfaatkan oleh  warga sekitar untuk mencari nafkah dan memperbaiki rumah mereka. Pasir yang dulunya menutup kali Gendol kini telah dimanfaatkan untuk ditambang karena pasir dari Merapi adalah pasir yang berkualitas bagus. Yang paling menakjubkan adalah sepanjang kali Gendol kini seperti Green Canyon di Amerika karena terdiri dari tebing-tebing yang tinggi.

Selain di alur sungai, aktivitas penambangan material bekas erupsi menjadi salah satu pemandangan yang paling banyak dijumpai di kaki-kaki Merapi. Susno, pemandu kami itu, mengatakan, saking banyaknya, jumlah material di sana masih bakal ada sampai sepuluh tahun ke depan. "Ini dulu kampung-kampung yang tertimbun material semua. Tingginya ada yang mencapai tujuh meter. Sepuluh tahun lagi ini belum habis," jelasnya.

Setelah melihat aktivitas penambangan material Merapi, kami lalu diajak melaju kencang di jalan menanjak. Tubuh berguncang hebat. Seorang teman sampai mules. Sesekali kita harus menundukkan kepala jika posisinya berdiri agar tak terbentur palang yang melintang. Tak lama kami mampir dan melihat langsung salah satu rumah yang kini menjadi musium mini erupsi Merapi. Rumah itu milik Sriyanto, yang siang itu kebetulan ada di sana. 

Di museum ini ada sekitar 3 ruang yang menjadi penyimpanan barang-barang bekas erupsi merapi. Ruang pertama adalah teras yang digunakan untuk menyipan kerangka sapi dan kerangka motor. Ruang kedua adalah ruang tamu. Di ruang tamu ada alat-alat rumah tangga, alat musik. Di ruang yang ketiga adalah bekas kamar yang digunakan untuk menyimpan botol-botol bekas yang meleleh, gamelan, pusaka-pusaka, dan foto-foto penampakan wujud penunggu merapi.

Selain bangkai motor, kerangka sapi, sisa pakaian dan perkakas dapur, di rumah itu atau di ruang kedua, juga masih menggantung jam dinding yang menunjukkan waktu kejadian letusan yang ketiga, yakni pukul 12.05, Jumat, 5 November 2010. "Jarum jam berhenti saat rumah ini dihantam awan panas," jelas Susno. Kata Susno, muesum itu dibikin sebagai pengingat betapa dasyatnya Gunung Merapi yang meletus pada hari Jumat 5 November 2010. Di museum ini juga ada yang menjual souvenir Merapi berupa kaos, shal, jaket dan VCD reka ulang erupsi Merapi.


"Kalau pas kejadian, saya sudah di titik aman, di tempat pengungsiang," kenang Sriyanto kepada kami yang meluangkan waktu menyapanya. Menurut dia, sebelum erupsi,  jumlah warga di dusunnya, yaitu Dusun Petung, Desa Kepulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kab Sleman, sebanyak 114 kk, 365 jiwa. Sekarang lokasi ini masuk zona merah. "Tanah tetap hak milik. Boleh digarap, tapi tidak untuk pemukiman," jelas lelaki kelahiran 20 Agustus 1971 itu.

Dari Dusun Petung, sekitar tiga kilometer ke arah barat daya, hardtop kami melaju kencang menuju dusun Mbah Marijan. Kami ziarah dulu ke makam beliau. Di makam, Susno, pemandu dan sopir hardtop, menuturkan peran Mbah Marijan. Saya yang tidak begitu mendengarkan karena asyik mengamati lokasi makam, hanya yakin soal Mbah ini bisa ditanya nanti sama Mbah Google. 

Ini hasilnya: Nama beken Mbah Marijan adalah Raden Ngabehi Surakso Hargo. Sementara nama aslinya Mas Penewu Surakso Hargo. Beliau lahir di Dukuh Kinahrejo, 5 Februari 1927 dan meninggal di Sleman, 26 Oktober 2010 pada umur 83 tahun. Dia adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. 
Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi. Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.

Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim. Jasad Mbah Maridjan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010. Almarhum Mbah Maridjan, mendapat penghargaan Anugerah Budaya 2011 dari Pemerintahan Provinsi DIY, dalam kategori pelestari adat dan tradisi. Pemberian penghargaan dilakukan Sekretaris Daerah Provinsi DIY Ikhsanuri, pada tanggal 29 November 2011, di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta.

Setelah selfie-selfie, kami dibawa lagi ke arah puncak. Setelah empat tahun berlalu, di sejumlah desa yang sempat lenyap sudah tampak berpenghuni. Bahkan sudah ada rumah bar yang dibangun kembali, ada masjid dan sejumlah kegiatan ekonomi. Juga tampak lahan-lahan pertanian di sisi kiri kanan jalan. "Ya, di sini sebagian warga ada yang sudah mulai kembali. Lahan-lahan pertanian juga ada yang mulai digarap," kata Susno usai membayar retribusi masuk.

Sekitar lima belas menit kemudian, kami lalu tiba di salah satu tepi jurang sungai Gendol. Kami diajak melihat dan mendekati sebuah batu dengan tinggi hampir tiga meter. "Ini namanya Batu Alien. Kalau mau lihat mengapa disebut demikian, coba lihat pelan-pelan dari sini," ujar Susno sembari mengajak kami ke sisi kanan atau sisi kiri batu.

Memang setelah diperhatikan baik-baik, batu itu memang menyerupai sosok kepala dengan mulut dan hidung tapi tak mirip dengan manusia. Tapi lebih mirip kepala alien yang sering kita toton di televisi. Itu sebabnya disebut alien atau mahluk asing. Batu Alien bukan berasal dari luar angkasa. Batu Alien keluar bersama erupsi Merapi pada 2010 lalu. Erupsi yang luar biasa itu memuntahkan bongkahan-bongkahan batu besar seperti Batu Alien ini. Namun, batu ini istimewa lantaran bentuknya. 

Batu Alien berada di Desa Kaliadem, tepatnya di lokasi yang dahulunya memuat tiga rumah. Di sana tinggal satu keluarga besar dan sebuah kandang sapi. Semua luluh lantak dilahap panasnya lava erupsi. Pada salah satu sisi batu ada peringatan begini:"Pengunjung Dilarang Naik di Atas Batu Alien". (www.okezone.com)

Dari lokasi Batu Alien, kami bisa menyaksikan alur sungai Gendol yang dipenuhi material dan aktivitas penambangan di bawah. Dengan latar alur sungai, kami pun meminta Susno mengabadikan perjalanan kami. Di lokasi yang sama, sejumlah wisatawan juga mampir. Ada WNI, ada juga turis mancanegara.

Sore itu kabut tebal masih menyembunyikan puncak Merapi. Hari itu (Minggu, 19 Oktober 2014) agaknya bukan takdir kami melihat puncak Merapi. Dan lazimnya di pegunungan, hawa dingin pun mulai menyapa. Kami pun bergegas menuju bunker atau tempat perlindungan. Ke bunker adalah titik terakhir paket perjalanan kami. Sebetulnya kita masih bisa lebih dekat lagi ke puncak Merapi. Tapi medannya yang terjal dan jalan setapak yang sempit tak bisa dilalui hardtop atau jeep. Kalau mau ke atas bisa sewa motor trail. 

Suasana menuju bunker tak kalah serunya. Mungkin karena sudah biasa, Pak Susno seolah sengaja menguji nyali kami. Hardtopnya dipacu lebih kencang. Meliuk-liuk di jalan berlubang, berdebu, Susno terkekeh melihat kami yang terombang-ambing dan saling tindih menahan tubuh agar tak jatuh atau terbentur palang-palang besi. "Hajaaarrrrrr," pekik kami. Kami pun tiba di bunker dengan nafas yang terengah-engah.

Bunker merupakan sebuah bangunan yang digunakan untuk berlindung pada saat bencana alam atau perang. Bunker di era perang dunia ke 1 dan 2 sangat populer karena banyak warga yang berlindung di bunker. Pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda, Belanda banyak membangun bunker di seluruh Indonesia tujuannya untuk berlindung dari bencana alam dan melindungi orang-orang penting. (The Jogja Holiday.com)

Bunker yang sekarang menjadi obyek wisata di lereng gunung Merapi yang pada tahun 2010 tertimbun material erupsi Merapi dan warga yang berlindung dibunker tersebut meninggal karena fungsi bunker hanya untung melindungi dari awan panas bukan material. Udara di sekitar bunker sangat sejuk karena hanya beberapa kilometer dari gunung Merapi. Suasana yang cocok jika pagi dan sore hari karena pada siang hari sangat panas. 

Bunker di lereng merapi tertimbun selama 2 tahun karena untuk menggali dan mengeluarkan material membutuhkan perjuangan keras dan kesabaran sebab material sangat panas, banyak alat berat yang rusak. Suhu material diperkirakan sekitar 900 drajat celcius. Sekarang sudah 75% penggalian di bunker sementara 25% tidak dikeluarkan dari bunker sebagai bukti bahwa material erupsi Merapi sempat masuk ke dalam bunker hingga mengisi bunker hingga penuh. (The Jogja Holiday.com)

Puas melihat bunker dan pemandangan di sekitar Merapi, kami dipanggil pemandu untuk segera kembali ke base camp. Apalagi senja sudah mulai menjelang. Hawa dingin pun makin menjadi, mulai menusuk pori-pori. Kami masih sempat melihat rombongan wisatawan yang turun dari kaki Merapi dengan motor trail. Nun jauh di sana, tampak bendera merah putih, pos pantau dan kaki-kaki Merapi yang mulai menghijau kembali.

Bermain dengan laju kendaraan di medan yang keras dan berdebu hebat juga menjadi suguhan pamungkas setelah kami meninggalkan bunker di Kaliadem, mengambil gambar bersama dan membeli bunga abadi, Edelweis, di sana. Dari berangkat hingga kembali ke base camp, waktu yang kami habiskan sekitar dua jam. Perjalanan wisata ke Merapi kini tak lagi hanya sekedar berkemah atau mendaki, tapi juga menikmati sensasi di sepanjang rute jalan yang disapa murka Merapi. (jees)

Komentar