Ketika Anak-Anakku (Mulai) Sekolah

Sepekan sebelum masuk sekolah perdana kami habiskan sisa senja di Pantai Panjang/dok pribadi

Senin, 9 Juli 2018 menjadi hari penting bagi saya dan istri. Sebab anak-anak kami: Chatrelle Jesy Nathania, Immanuel Jean Ernest, dan Antonio Gabe Freire untuk kali pertama dan perdana masuk sekolah bersama-sama.

Si sulung yang kami panggil kakak Jesy naik ke kelas IV SD, si nomor dua abang Noel baru kelas 1 SD, sedang si bungsu menjadi murid taman kanak-kanak. Mereka semua bersekolah di lembaga pendidikan Yayasan Tarakanita Bengkulu (TK dan SD Sint Carolus Bengkulu).

Hari itu kami bangun agak kesiangan. Sudah pukul 06.00 WIB ketika istriku tiba-tiba terjaga lalu membangunkan lelapku. Dia lalu bangkit dan bergegas ke dapur. Saya pun segera sigap. Satu per satu anak-anak yang masih terlelap saya panggil namanya supaya bangun.

Sementara si sulung dan si abang yang sudah terbiasa dibangunkan, si bungsu justru sempat protes. "Kok sekolah?" ia merengek. Tubuhnya berguling di atas bantal. Bola matanya masih tertutup. Ia seolah masih mau berlama-lama di peraduan.

Namun dalam hitungan menit saja, si bungsu yang kami panggil Nio sudah ikut bergegas ke belakang. Ia menyusul kakak dan abangnya yang bersiap mandi. Dan seperti biasa, ia tak mau didahului si abang. Abang Noel yang sudah biasa mengalah akhirnya mundur dari kamar mandi.

Setelah sarapan, lewat sedikit pukul 07.00 WIB, kami berangkat ke sekolah. Karena jaraknya hanya ratusan meter saja dari rumah yang kami tinggali, kami menempuh SD dan TK itu dengan hanya berjalan kaki. Tak sampai 5 menit, langkah kami sudah menjejak di gerbang TK Sint Carolus.

Senyum ramah ibu guru dan suster menyambut kami. Suasana pagi itu sudah ramai. Halaman TK sudah dihiasi anak-anak yang riang bermain, atau pemandangan anak-anak yang merengek lantaran tak mau ditinggal jauh oleh ibunya.

Istriku sudah berlalu menuju lapangan SD. Ia bergerak cepat karena anak-anak sudah berkumpul di halaman sekolah, bersiap-siap upacara bendera.

Sementara saya dan si bungsu mulai mencari ruang kelas. Seperti abangnya, si bungsu ternyata masuk kelas besar: B3. Dia juga akan dibimbing oleh guru yang sama seperti abangnya: Ibu Sisil.

Nio sudah sering ke TK ini. Bahkan ke SD yang letaknya bersebelahan dengan TK, dia juga sudah tak asing. Saban hari kami mengantar kakak dan abangnya ke sekolah, dia minta serta. Karena itu, sejumlah guru atau karyawan di sana juga sudah mengenalnya.

Masuk Kelas
Sebagai orang tua, saya tentu penasaran sekali melihat bagaimana sikap anak-anak saya saat pertama kali berada di dalam kelas. Itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu. Saya kira orang tua yang lain juga serupa.

Dan ketika bel berbunyi sebagai tanda masuk kelas, si Nio antusias sekali. Dia berlari ke depan kelas. Dia tak lagi menunggu apalagi menarik tangan saya agar menemaninya ke depan kelas.

Saya mengawasinya dari jauh. Dia hanya menoleh sekali sebelum bergabung dalam barisan teman-teman satu kelasnya yang sudah di sana. Saat diarahkan ibu guru, dia tampak dengan cepat mengikuti. Tak nampak rasa canggung atau malu-malu. Instruksi sang guru dia ikuti dengan baik.

Setelah sesi perkenalan di halaman dan berkeliling mengenal lingkungan sekolah, anak-anak lalu masuk ruang kelas. Di dalam kelas, guru pertama-tama mengajak berdoa. Mereka lalu diabsen satu per satu.

"Antonio," ibu Sisil memanggil. Yang dipanggil diam saja. Dia malah mencari bapaknya yang menyimak dari pinggir jendela. "Adek mau pipis," ujarnya saat mata kami bersua. "Omong sama guru ya," seru saya.

"Antonio. Nio," ibu Sisil kembali memangggil. Kali ini Nio mengangkat tangan kanan. "Oh, ini Antonio," kata sang guru sembari mendekatinya. "Mau pipis bu," kata Nio ke telinga gurunya.

"Oh, iya. Pipis ditemani sama bapaknya dulu ya," izin bu guru. Nio lalu bergegas ke luar. Kami pun melangkah ke kamar kecil yang letaknya di sudut kiri sekolah. "Ini yang cowok, pak. Itu untuk cewek," tiba-tiba saja si bungsu menjelaskan. Rupanya sesi pengenalan lingkungan sebelum masuk kelas tadi sudah terekam di benaknya.

Hari perdana di ruang kelas itu berakhir pukul 09.00 WIB. Puji Tuhan, hari itu saya melihat si bungsu antusias di kelas. Pesan-pesan si guru dia ingat dengan baik. Misalkan saja soal mainan atau permen. "Kata bu guru nggak boleh bawa permen. Nggak boleh bawa mainan," katanya saat kami tanya apa pesan gurunya. Saya dan istri menahan geli saja melihat caranya mengingatkan pesan itu.

===000===

Si abang Noel hari itu juga tampak sumringah meninggalkan kelas. Kata istriku, dia ditempatkan di lokal C. Duduk pada barisan kedua dari depan.

Setahun lalu, Noel juga tak punya masalah dalam urusan beradaptasi. Setelah tiba di sekolah dan masuk ruang kelas, dia tidak merengek atau minta ditunggui. Walau tak seaktif adiknya Nio, namun dia juga terbilang tertib dalam kelas.

Ada satu hari dimana kami dan pihak sekolah dibuat panik. Ceritanya, pagi saat mengantarkan Noel, istri saya sudah berpesan kepada gurunya agar mengawasi Noel karena dia bakal datang terlambat menjemput.

Namun ketika tiba di sekolah, Noel tidak ada di sana. Sudah dicari-cari, dia juga tak ditemukan. Tak cuma di sekitar lingkungan sekolah TK dan SD, istri saya sampai mengembara ke arah pantai. Namun Noel juga tak jumpa.

Saya yang sudah di luar kota ikut kaget setelah diberitahu lewat telepon. Percakapan saya dan istri belum tuntas ketika sambungan telepon tiba-tiba terputus. Saya sudah berpikir untuk segera pulang.

Namun beberapa saat kemudian, kabar baik pun datang. Noel ternyata sudah tiba di rumah. "Lha, siapa yang jemput," tanya saya saat istri memberi kabar itu.

Sampai sepekan setelah peristiwa itu kami baru diberitahu jika Noel diantar seorang guru SD. Ceritanya, si guru melihat Noel berjalan sendiri meninggalkan gerbang TK. Dia memang berjalan ke arah pulang.

Lantaran melihatnya sendiri si ibu guru itu mendekati Noel dan menanyakan dia pulang kemana. Noel akhirnya dibonceng hingga tiba di ujung gang, jalan masuk ke rumah kontrakan kami. Si ibu guru itu tak mengantarnya hingga ke rumah sehingga tetangga pun tak tahu siapa yang mengantarkannya pulang saat istri saya tanya.

Sejak peristiwa itu, kami mewanti-wanti pihak sekolah agar tidak kembali lalai. Kami minta mereka melarang keras anak kami itu meninggalkan sekolah jika belum ada yang datang menjemputnya.

Si Jesy

Dibanding adik-adiknya, si kakak lebih banyak mengecap taman belajar sebelum resmi jadi anak sekolahan. Sebelum TK, Jesy sempat ikut kelas belajar yang diampu pengajar khusus anak-anak. Saya lupa nama lembaga ini, namun memang baru hadir di Kota Bengkulu.

Kami mengantarkan Jesy ke lembaga itu lantaran ada teman baik istriku yang juga aktif sebagai salah seorang perintis. Ditambah anak perempuannya yang sebaya dengan Jesy juga ikut dalam kelas itu.

Dalam tempo seminggu, memang ada perubahan signifikan terhadap kemampuan belajarnya. Bahkan metode belajar sambil bermain yang diterapkan di sana membuat Jesy betah. Dalam tempo yang singkat juga dia sudah mampu menghafal materi-materi yang diajarkan.

Sayang, eksistensi lembaga itu seumur jagung. Saya kurang tahu persis apa masalahnya, tak sampai satu tahun taman belajar itu tiba-tiba stop. Beberapa waktu kemudian lembaga itu hadir lagi di lokasi berbeda. Jesy kami sertakan lagi.

Namun karena pengampunya sudah beda, kami menilai proses belajar sambil bermain yang diterapkan sudah tak seperti semula. Lokasinya di tempat yang ramai, staf yang masih remaja dan sering ketangkap basah sambil pacaran di sana membuat taman belajar itu tak lagi nyaman.

===00==





Komentar