Catatan Pemilu Pertama Saya

ilustrasi/DOKUMENTASI.TIPS

Mei 1997. Siang itu siswa kelas III SMA Negeri 1 Muara Aman baru saja memberikan hak suaranya di bilik suara. Lalu sejumlah siswa dipanggil. Seingat saya tiga orang. Seorang di antaranya kawan karib saya, FA.

Hari itu kami memang tidak mengikuti proses belajar seperti biasa. Kata guru, kami akan latihan cara mencoblos di TPS. Ya, tahun itu memang akan diselenggarakan Pemilu untuk memilih Anggota DPRD Tingkat II, DPRD Tingkat I dan DPR RI. Peserta Pemilu 1997 adalah Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia.

Rupa-rupanya teman-teman kami yang dipanggil 'ketahuan' memilih peserta kontestasi Pemilu yang berbeda dari mayoritas. Entah apa yang disampaikan kepala sekolah atau guru yang memanggil teman-teman kami itu. Yang pasti, mereka kena tegur.

Baru setelah sekian lama, saya menduga kuat, latihan mencoblos itu bukan sekadar latihan atau simulasi dalam kamus pendidikan politik atau pendidikan pemilu hari ini. Boleh jadi, suara yang kami berikan saat itu ikut dihitung sebagai hasil resmi Pemilu 1997. Walahualam..

Yang menarik, FA, salah seorang teman yang dipanggil saat itu belakangan terpilih menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum. Saya nggak tahu, apakah dia ingat sejarah masa lalu itu?

Setelah menjadi mahasiswa dan warga yang melek politik, tak cuma pengalaman masa SMA itu yang membuat saya geram terhadap penguasa Orde Baru. Saya juga ingat ketika menjelang masa kampanye, seorang guru yang mengajar pendidikan kewarganegaraan menggiring kami agar memilih salah satu peserta Pemilu di dalam kelas saat mengajar.

Lalu saat kampanye di Lapangan Hatta, saya dan teman-teman yang diiming-iming lulus SMA jika kontestan itu menang (lagi), beramai-ramai memadati lokasi kampanye. Tampak ada kepala sekolah kami yang duduk di panggung. Biar dia tahu kami hadir, kami lalu bergantian naik punggung kawan agar lebih tinggi dibanding kerumunan massa yang lain.

Sungguh menjadi pemilih pemula yang dengan mudahnya dimanipulasi!

Pentingnya Pendidikan Politik

Saya kira mengalami melek politik sejak dini itu perlu dan penting. Dan untuk konteks kini hal itu sudah sangat wajar sebab informasi dan sumber-sumber ilmu pengetahuan terbuka lebar dengan kemajuan teknologi.

Bandingkan dengan masa saya SMA tahun 1995-1997. Tahun itu kami belum kenal yang namanya android. Jangankan android, handphone pun belum. Kami baru kenal telepon meski tidak pernah menyentuhnya di masa itu.

Apalagi internet. Mahluk ini baru saya akrabi setelah kuliah semester lima. Di semester tiga baru kenal lewat mata kuliah ilmu komputer dan kelas belajar internet sekali sepekan.

Maka dengan keleluasaan mengakses data, dan informasi digital, misalnya tentang hak-hak politik warga negara, generasi milenial kini idealnya sudah lebih melek politik.

Nah, supaya tidak asal telan data dan informasi, mereka perlu didampingi, diberi ruang untuk diskusi, ruang dialog. Lembaga-lembaga seperti Bawaslu dan KPU,  adalah institusi yang bisa mengisi ruang itu. Selain tentu partai politik dan lembaga masyarakat sipil lainnya.



Komentar