Sebagai pemirsa youtube dan penikmat film berbagai genre, dalam satu bulan terakhir saya menikmati sejumlah film untuk menghabiskan sisa malam. Dari sejumlah film yang saya tonton, dua di antaranya memberi kesan yang mendalam. Saking dalamnya, pipi saya basah oleh butir air mata 😊
Film pertama berjudul The Japanese Wife. Film yang dirilis 2013 ini berkisah tentag kasih setia dua insan yang berbeda latar belakang: bangsa, budaya, agama, profesi.
Si perempuan adalah warga negara Jepang. Sementara si pria asal India. Keduanya terpisah jarak. Lewat korespondensi dalam bahasa Inggris keduanya dipertemukan. Mulanya teman curhat, lalu melalui surat pula mereka bersepakat mengikatkan diri sebagai pasangan suami-istri.
Miyage (diperankan Chigusa Takaku), nama si perempuan Jepang, adalah sosok pemalu. Ia tinggal bersama sang ibu yang didera sakit setelah ayahnya meninggal dunia. Alasan kesehatan sang ibu membuat dia tak kunjung bisa menunaikan keinginannya bersua mata dengan Snehamoy--si pria India dari suku Bengala, pujaan hatinya.
Snehamoy (diperankan Rahul Base) yang disapa dear S oleh Miyage, tak punya cukup uang agar bisa terbang ke negeri Sakura menjumpai Miyage. S hanya seorang guru di desanya. Ia tinggal bersama sang bibi yang juga prihatin melihatnya. S hanya mampu membayar biaya telepon interlokal selama sekian menit agar bisa berbincang langsung dengan Miyage. Itu pun jarang-jarang.
Cerita terus mengalir sampai suatu hari sang bibi mengizinkan Sandhyal, seorang janda bersama seorang anak lelakinya tinggal bersama mereka. Sang Māsi atau bibi, sebenarnya berharap Snehamoy bisa menikahinya. Namun lantaran S sudah jatuh hati dan menikahi Miyage, harapan sang bibi itu tak bisa ia wujudkan.
Sebagai suami, Snehamoy dengan terbuka menceritakan apa yang terjadi di kampungnya di wilayah Bengala Barat itu, dalam surat-suratnya ke Miyage.
Adapun Miyage yang sudah menabung uang agar bisa datang ke India akhirnya tak kuasa melawan penyakit kanker yang menyerangnya. Uang tabungan terpaksa ia gunakan. Meski didera sakit parah, Miyage tetap berjanji akan datang ke India setelah sembuh.
Dalam ketak-berdayaan ekonomi, S berjuang dengan caranya membantu penyembuhan M. Ia mendatangi tabib, menanyakan perihal sakit sang istri dan obat-nya. Ramuan tabib itu dia kirim ke Miyage.
Dari kampungnya S bahkan harus ke kota Mubai menemui dokter ahli. Sayang, setelah bertemu sang dokter, S pulang lunglai. Ia tak bisa memenuhi permintaan dokter yang meminta calon pasien datang ke kliniknya.
"Dia tak di sini. Dia di Jepang," kata S sebelum pulang kampung.
Kepulangan S ke kampung disambut hujan badai. Akibatnya S jatuh sakit. Sakit S tak kalah serius. Ia diserang malaria. Ini adalah kali keempat dia kena malaria. Berhari-hari dia dirawat sang bibi. Namun dari Sandhyal-lah, S menerima perlakukan istimewa. Ia dirawat seperti suaminya sendiri.
Di Jepang, Miyage yang sudah pindah ke Yokohama, justru berangsur pulih. Meski kepalanya jadi plontos, M sudah melalui masa kritisnya. Demi memenuhi janji dan kerinduan, M akhirnya bisa ke India di tahun ketujuh belas usia pernikahan mereka.
Miyage tiba di India dan sampai ke kampung suaminya. Di depan gerbang halaman rumah, M disambut ramah Sandhyal. Miyage tak menemukan sosok pujaan. Snehamoy sudah meninggal akibat malaria yang menyerangnya.
Di dalam kamar S, M hanya menemukan surat-surat, foto-foto, dan hadiah layang-layang yang ia kirimkan. Sejak sakit, Snehamoy tak mampu menulis surat memberi kabarnya ke Miyage.
Tiga Guru Turki
Film kedua tak kalah berkesan. Judulnya SALAM. Ini film Turki yang bercerita tentang dendam, pengabdian, dan perdamaian.
Cerita dibuka dari negeri Senegal. Seorang anak perempuan terluka parah setelah terjatuh di atas bebatuan. Sang ayah yang menggotongnya ke desa tak bisa berbuat banyak. Bahkan saat meminta tumpangan kepada warga kulit putih yang melintas mereka diacuhkan. Anaknya bernama Ayaa meninggal setelah kepada sang abang dia meminta air karena haus.
Sikap tak peduli pengendara mobil membekas di benak Khadim, si abang. Saking dendamnya, bocah 11 tahun itu tak mau memakai kemeja putih yang biasa dia pakai. "Itu punya orang kulit putih. Saya benci mereka semua," kata Khadim.
Dendam dan kebencian Khadim akhirnya pupus setelah dia merasakan persahabatan dengan Harun. Harun adalah seorang guru sekaligus kepala sekolah yang sengaja datang dari Turki ke Senegal.
Sikap ramah dan tak membedakan warna kulit yang ditunjukkan Harun membuka mata dan hati Khadim bahwa tak semua orang putih itu buruk. Harun lah yang menerima Musa, ayah Khadim, bekerja di sekolah yang dia pimpin dan menawarkan sekolah bagi Khadim.
"Saya benci semua orang putih, pak guru. Tapi saya tidak benci kepada anda," kata Khadim kepada Harun saat mereka menjiarahi kubur sang adik.
Zahra
Di Afganistan, seorang perempuan Turki, juga mengabdikan diri sebagai guru. Namanya Zahra. Zahra sendiri adalah kekasih Harun. Mereka berpisah di bandara pada hari yang sama demi mewujudkan misi dan melakoni pilihan hidup sebagai guru di negeri orang.
Seperti Harun yang mendapati konflik warna kulit di Senegal, Zahra juga menghadapi kondisi Afganistan yang masih dalam dera konflik perang. Zahra berjuang keras meyakinkan seorang ibu dari muridnya bernama Salim yang begitu tertutup kepada orang lain.
Adam
Ketika meninggalkan Turki, Adam, seorang kepala sekolah dan guru asal Turki yang mengabdi di negara bekas Yugoslavia, Bosnia, menitipkan sang istri kepada ibundanya. Sang istri tengah mengandung anak pertama mereka kala itu.
Adam baru saja akan meninggalkan sekolah untuk kembali ke Turki mendampingi sang istri yang akan bersalin ketika teman-temannya mengabarkan seorang rekan mereka, ibu guru Irina, meninggal dunia.
Adam batal pulang. Ia memilih melayat dan menghantarkan jasad Iriana ke pemakaman. Pengabdian dan pengorbanan guru Iriana di sekolah itu membuat Adam tak ingin melewatkan pemakaman. Adam melewatkan masa persalinan sang istri.
Seperti Harun di Senegal dan Zahra di Afganistan, Adam juga berjumpa dengan warga yang masih menyimpan dendam pasca-perang saudara, Bosnia vs Serbia. Dendam itu tumbuh dan tampak di salah seorang muridnya bernama Almir. Almir yang Bosnia menyimpan amarah kepada keluarga Sasha yang Serbia. Pasalnya, keluarga Sasha tidak menolong ayah Almir saat terjatuh ke sungai sehingga meninggal dunia. Karena perang kala itu membuat mereka yang bertetangga tak bisa berbuat apa-apa.
Adam yang menunggu kabar kelahiran anaknya lewat telepon dari sang ibu pun tewas lantaran kelelahan usai menolong Almir dan Sasha yang hanyut setelah terjatuh ke sungai saat berkelahi di atas jembatan yang memisahkan kedua wilayah itu.
Harun, Zahra, Khadim, Salim, Almir dan Sasha serta anak Adam akhirnya bersua di Istanbul Turki dalam suatu acara bertajuk Olimpiade Bahasa Turki.
Khadim dan Salim dipertemukan gara-gara lagu yang akan mereka bawakan ternyata sama. Lagu itu bertema cinta, lagu Harun dan Zahra.
...apa kau tahu sayang? apa kau tahu...
jauh di mata, jauh juga di lidah..
..aku telah mencintaimu...
_________________________________________________________________
Film pertama berjudul The Japanese Wife. Film yang dirilis 2013 ini berkisah tentag kasih setia dua insan yang berbeda latar belakang: bangsa, budaya, agama, profesi.
Si perempuan adalah warga negara Jepang. Sementara si pria asal India. Keduanya terpisah jarak. Lewat korespondensi dalam bahasa Inggris keduanya dipertemukan. Mulanya teman curhat, lalu melalui surat pula mereka bersepakat mengikatkan diri sebagai pasangan suami-istri.
Miyage (diperankan Chigusa Takaku), nama si perempuan Jepang, adalah sosok pemalu. Ia tinggal bersama sang ibu yang didera sakit setelah ayahnya meninggal dunia. Alasan kesehatan sang ibu membuat dia tak kunjung bisa menunaikan keinginannya bersua mata dengan Snehamoy--si pria India dari suku Bengala, pujaan hatinya.
Snehamoy (diperankan Rahul Base) yang disapa dear S oleh Miyage, tak punya cukup uang agar bisa terbang ke negeri Sakura menjumpai Miyage. S hanya seorang guru di desanya. Ia tinggal bersama sang bibi yang juga prihatin melihatnya. S hanya mampu membayar biaya telepon interlokal selama sekian menit agar bisa berbincang langsung dengan Miyage. Itu pun jarang-jarang.
![]() |
| Adegan Snehamoy saat menelpon Miyage dari wartel/gambar screenshoot youtube |
Cerita terus mengalir sampai suatu hari sang bibi mengizinkan Sandhyal, seorang janda bersama seorang anak lelakinya tinggal bersama mereka. Sang Māsi atau bibi, sebenarnya berharap Snehamoy bisa menikahinya. Namun lantaran S sudah jatuh hati dan menikahi Miyage, harapan sang bibi itu tak bisa ia wujudkan.
Sebagai suami, Snehamoy dengan terbuka menceritakan apa yang terjadi di kampungnya di wilayah Bengala Barat itu, dalam surat-suratnya ke Miyage.
Adapun Miyage yang sudah menabung uang agar bisa datang ke India akhirnya tak kuasa melawan penyakit kanker yang menyerangnya. Uang tabungan terpaksa ia gunakan. Meski didera sakit parah, Miyage tetap berjanji akan datang ke India setelah sembuh.
Dalam ketak-berdayaan ekonomi, S berjuang dengan caranya membantu penyembuhan M. Ia mendatangi tabib, menanyakan perihal sakit sang istri dan obat-nya. Ramuan tabib itu dia kirim ke Miyage.
Dari kampungnya S bahkan harus ke kota Mubai menemui dokter ahli. Sayang, setelah bertemu sang dokter, S pulang lunglai. Ia tak bisa memenuhi permintaan dokter yang meminta calon pasien datang ke kliniknya.
"Dia tak di sini. Dia di Jepang," kata S sebelum pulang kampung.
Kepulangan S ke kampung disambut hujan badai. Akibatnya S jatuh sakit. Sakit S tak kalah serius. Ia diserang malaria. Ini adalah kali keempat dia kena malaria. Berhari-hari dia dirawat sang bibi. Namun dari Sandhyal-lah, S menerima perlakukan istimewa. Ia dirawat seperti suaminya sendiri.
Di Jepang, Miyage yang sudah pindah ke Yokohama, justru berangsur pulih. Meski kepalanya jadi plontos, M sudah melalui masa kritisnya. Demi memenuhi janji dan kerinduan, M akhirnya bisa ke India di tahun ketujuh belas usia pernikahan mereka.
![]() |
| Miyage tiba di kampung Snehamoy/gambar screenshot youtube |
Miyage tiba di India dan sampai ke kampung suaminya. Di depan gerbang halaman rumah, M disambut ramah Sandhyal. Miyage tak menemukan sosok pujaan. Snehamoy sudah meninggal akibat malaria yang menyerangnya.
Di dalam kamar S, M hanya menemukan surat-surat, foto-foto, dan hadiah layang-layang yang ia kirimkan. Sejak sakit, Snehamoy tak mampu menulis surat memberi kabarnya ke Miyage.
Tiga Guru Turki
Film kedua tak kalah berkesan. Judulnya SALAM. Ini film Turki yang bercerita tentang dendam, pengabdian, dan perdamaian.
Cerita dibuka dari negeri Senegal. Seorang anak perempuan terluka parah setelah terjatuh di atas bebatuan. Sang ayah yang menggotongnya ke desa tak bisa berbuat banyak. Bahkan saat meminta tumpangan kepada warga kulit putih yang melintas mereka diacuhkan. Anaknya bernama Ayaa meninggal setelah kepada sang abang dia meminta air karena haus.
Sikap tak peduli pengendara mobil membekas di benak Khadim, si abang. Saking dendamnya, bocah 11 tahun itu tak mau memakai kemeja putih yang biasa dia pakai. "Itu punya orang kulit putih. Saya benci mereka semua," kata Khadim.
![]() |
| gambar screenshot youtube SALAM |
Sikap ramah dan tak membedakan warna kulit yang ditunjukkan Harun membuka mata dan hati Khadim bahwa tak semua orang putih itu buruk. Harun lah yang menerima Musa, ayah Khadim, bekerja di sekolah yang dia pimpin dan menawarkan sekolah bagi Khadim.
"Saya benci semua orang putih, pak guru. Tapi saya tidak benci kepada anda," kata Khadim kepada Harun saat mereka menjiarahi kubur sang adik.
Zahra
Di Afganistan, seorang perempuan Turki, juga mengabdikan diri sebagai guru. Namanya Zahra. Zahra sendiri adalah kekasih Harun. Mereka berpisah di bandara pada hari yang sama demi mewujudkan misi dan melakoni pilihan hidup sebagai guru di negeri orang.
Seperti Harun yang mendapati konflik warna kulit di Senegal, Zahra juga menghadapi kondisi Afganistan yang masih dalam dera konflik perang. Zahra berjuang keras meyakinkan seorang ibu dari muridnya bernama Salim yang begitu tertutup kepada orang lain.
Adam
Ketika meninggalkan Turki, Adam, seorang kepala sekolah dan guru asal Turki yang mengabdi di negara bekas Yugoslavia, Bosnia, menitipkan sang istri kepada ibundanya. Sang istri tengah mengandung anak pertama mereka kala itu.
Adam baru saja akan meninggalkan sekolah untuk kembali ke Turki mendampingi sang istri yang akan bersalin ketika teman-temannya mengabarkan seorang rekan mereka, ibu guru Irina, meninggal dunia.
![]() |
| SALAM: Almir dan Sasha berkelahi di atas jembatan hingga terjatuh ke sungai/gambar screenshot youtube |
Seperti Harun di Senegal dan Zahra di Afganistan, Adam juga berjumpa dengan warga yang masih menyimpan dendam pasca-perang saudara, Bosnia vs Serbia. Dendam itu tumbuh dan tampak di salah seorang muridnya bernama Almir. Almir yang Bosnia menyimpan amarah kepada keluarga Sasha yang Serbia. Pasalnya, keluarga Sasha tidak menolong ayah Almir saat terjatuh ke sungai sehingga meninggal dunia. Karena perang kala itu membuat mereka yang bertetangga tak bisa berbuat apa-apa.
Adam yang menunggu kabar kelahiran anaknya lewat telepon dari sang ibu pun tewas lantaran kelelahan usai menolong Almir dan Sasha yang hanyut setelah terjatuh ke sungai saat berkelahi di atas jembatan yang memisahkan kedua wilayah itu.
![]() |
| gambar screenshot youtube SALAM |
Harun, Zahra, Khadim, Salim, Almir dan Sasha serta anak Adam akhirnya bersua di Istanbul Turki dalam suatu acara bertajuk Olimpiade Bahasa Turki.
Khadim dan Salim dipertemukan gara-gara lagu yang akan mereka bawakan ternyata sama. Lagu itu bertema cinta, lagu Harun dan Zahra.
...apa kau tahu sayang? apa kau tahu...
jauh di mata, jauh juga di lidah..
..aku telah mencintaimu...
_________________________________________________________________





Komentar
Posting Komentar